Kaitan Ide/Pemikiran & Konsep antara Merkantilisme dan Mazhab Klasik

 

Beberapa kaitan ide atau pemikiran dan konsep antara era merkantilisme dan mazhab klasik adalah sebagai berikut :
1.    Literatur Ide dan Konsep Ekonomi
Suatu hal yang pantas dicatat selama era merkantilisme ialah tidak hanya perdagangan dan perekonomian yang maju pesat, perkembangan literatur juga meningkat pesat sekali. Kemajuan dalam tulisan-tulisan ekonomi maju dan baik dalam jumlah maupun mutu. Masa merkantilisme ditandai sebagai periode masing-masing orang menjadi ahli ekonomi bagi dirinya sendiri. Setiap orang mempunyai pendapat sendiri-sendiri, dan sayangnya sangat sulit digeneralisasi. Hal ini mungkin disebabkan kebanyakan penulis tidak berlatar belakang universitas, tetapi para pedagang yang menulis persoalan-persoalan ekonomi yang berhubungan dengan bisnis mereka. Sehingga orang-orang menganggap tulisan-tulisan mereka tersebut “berserakan”. Akan tetapi, dari tulisan-tulisan mereka inilah yang selanjutnya Adam Smith, kaum klasik, memperoleh banyak sumber untuk menulis bukunya dan tulisan-tulisannya.
Otomatis, literatur ide dan konsep kaum merkantilis yang “berserakan“ tersebut menjadi salah satu sumber dan pokok ide literatur yang digunakan kaum klasik untuk  menjelaskan konsepnya. Jadi memang ide dan konsep kaum klasik tidak terlepas dari punyanya kaum merkantilis.
2.    Posisi Makna Konsep Individualisme dan Peranan Pemerintah
Di era merkantilisme, negara ditempatkan sangat tinggi di atas individu-individu, dengan kata lain, pemerintah pada masa merkantilis mempunyai peranan penting dalam menetapkan kebijakan pada setiap individu (notabene individunya merupakan saudagar). Sebaliknya, menurut Adam Smith (ajaran klasik), kepentingan individulah yang mesti diutamakan. Bahkan tugas negaralah untuk menjamin terciptanya kondisi bagi setiap orang untuk bebas bertindak melakukan yang terbaik bagi diri mereka masing-masing. Mencegah monopoli, mempertahankan negara, menjaga ketertiban internal, dan mengatur barang publik bereksternalitas tinggi, itu semua juga merupakan peran pemerintah menurut Smith.
Jadi, menurut saya ini juga merupakan kaitan antara merkantilisme dan klasik, walaupun keterkaitannya yang berlawanan arah, merkantilis mengatakan peran pemerintah itu vital sedangkan klasik mengatakan tidak perlu adanya campur tangan pemerintah. Disini yang lebih awal muncul menjadi sumber yang setelahnya untuk membuat konsep yang baru. Sehingga hal tersebut tetap saja dapat disebut adanya kaitan.

3.    Keharmonisan David Hume dari Merkantilisme dengan Adam Smith dari Mazhab Klasik

David Hume dan Adam Smith dikenal sebagai kawanan dekat. Hume dan Smith sering mendiskusikan pandangannya masing-masing bersama-sama, sehingga jelas hal ini akan mempengaruhi jalan pikiran masing-masing.
Jika dilihat dari apa yang dikatakan Deliarnov di bukunya di atas, dapat saya simpulkan hal tersebut dapat merupakan sebuah kaitan yang sangat erat antara merkantilisme dan klasik, di mana salah satu dari pemerannya sering berdiskusi bersama-sama tentang pandangannya masing-masing. Secara tidak langsung, ide dan pemikiran keduanya berkontribusi besar terhadap konsep pemikiran ekonomi pada era dan mazhabnya masing-masing.
4.    Monopoli Pasar
Pada era merkantilisme yang mana telah diketahui vitalnya posisi peranan pemerintah, dalam hal ini, kebebasan melakukan monopoli pasar yang disertai proteksi dan keistimewaan-keistimewaan lainnya merupakan salah satu kebijakan pemerintah kepada individu di era tersebut (kaum saudagar). Sehingga kaum saudagarlah yang memegang kendali perekonomian.
Sedangkan Adam Smith, yang berasal dari mazhab klasik, mengkritik pandangan merkantilis di atas. Kata dia, monopoli pasar akan berdampak negatif terhadap kondisi ekonomi, yaitu:
·      Akan membuat harga tinggi dan perekonomian memburuk
·      Cenderung merusak sebuah manajemen yang baik
·      Membuat kebijakan pemerintah menjadi kurang baik dan tepat
·      Menimbulkan misalokasi sumberdaya
Sama seperti kaitan poin kedua tentang konsep individualisme dan peran pemerintah, walaupun keterkaitannya berlawanan arah, tetap saja ini dapat dikatakan sebuah kaitan, karena ide dan konsep yang lebih awal ada menjadi bahan kritikan pihak setelahnya yang selanjutnya menjadi sumber untuk membuat ide yang baru. Seperti itulah kira-kira.
5.    Division of Labor atau Spesialisasi
Pandangan Adam Smith, pemeran kaum klasik, mengenai division of labor berkaitan dengan era merkantilisme yang mana pada zamannya telah membuka jaringan pasar yang luas, orientasi perdagangan kaum merkantilis ini membuat Smith berpikir bagaimana cara untuk memaksimalkan efisiensi kegiatan di pasar tersebut, sehingga dalam hal ini Smith mengatakan perlunya spesialisasi kerja. Yang selanjutnya pandangan ini dimaksudkan untuk memacu efisiensi kerja, pertumbuhan output dan selanjutnya mengarah ke pembangunan ekonomi yang lebih baik.
Jadi, memang pada kenyataannya, ide teori division of labor Smith ini secara tidak langsung timbul oleh adanya konsep perdagangan Merkantilisme.
6.    Teori Upah
Merkantilisme melalui ahli ekonomi Oxford University, Sir William Petty, telah menjelaskan tentang teori ini, di mana Petty mengatakan bahwa nilai suatu barang ditentukan oleh biaya yang diperlukan untuk menjaga agar pekerja dapat tetap bekerja. Dengan kata lain, upah ditentukan oleh kebutuhannya untuk bisa tetap bekerja.
            Sedangan mazhab klasik melalui tokoh utamanya, Adam Smith, mengatakan bahwa keterampilan (skill) pekerja menjadi indikator penting dalam menentukan besaran upahnya, bahkan tidak juga hanya diukur dari dari waktu kerjanya saja dan skill inilah yang juga akan menentukan nilai suatu barang.
7.    Teori Perdagangan Internasional
Teori ini merupakan inti pokok dalam pandangan merkantilisme, bahwa kemajuan dan kemakmuran negara kebangasaan bersangkut-paut dengan adanya surplus ekspor barang di atas impor dalam perdagangan luar negeri (internasional). Surplus yang dimaksud itu bisa menambah cadangan logam mulia seperti emas, yang dianggap sebagai unsur pokok kekuatan negara, kemajuan bangsa dan kemakmuran masyarakat.
                        Mazhab klasik melalui pemain peran lainnya, David Ricardo, yang menjelaskan teori perdagangan internasional secara lebih spesifik, yaitu berdasarkan asas keunggulan komparatif.  Di bidang perdagangan internasional , hal itu menyangkut kemampuan khusus atau keunggulan suatu negara untuk membuat beberapa jenis barang dan jasa tertentu dengan lebih murah (tingkat biaya murah) dibandingkan dengan keadaan di mana sumber daya dan dananya dicurahkan untuk produksi jenis barang dan jasa yang lainnya, dan juga keunggulan dalam hal produktivitas. Sedemikian rupa sehingga negara tersebut dapat mewujudkan surplus perdagangan, seperti yang sudah diinginkan sebelumnya oleh kaum merkantilis.
Oleh karena itu, menurut saya, ini dapat dikatakan sebagai sebuah kaitan ide dan konsep teori perdagangan internasional.
8.    Kebijakan Moneter terhadap Kenaikan Harga (Inflasi)
Kaum merkantilis yang memang sudah tidak asing dengan hal yang berhubungan dengan logam mulia (seperti emas), berpendapat bahwa semakin banyak emas (logam mulia) yang beredar,  tingkat harga akan semakin naik.
Hal tersebut pula yang sepertinya menjadi dasar ide konsep kebijakan moneter yang dikemukakan oleh David Ricardo. Yang berpendapat sama seperti di atas, sehingga diperlukannya penciptaan mata uang yang terdiri atas uang kertas, yang dapat mengatasi permasalahan kenaikan harga tersebut. Cara spesifiknya adalah dengan mengatur uang kertas yang dikeluarkan agar sesuai dengan lalu lintas keluar-masuknya emas.
Kesimpulan Mini
Jadi, ide dan konsep mazhab klasik memang berasal dari gagasan-gagasan yang sudah dibahas dan dibicarakan oleh pakar-pakar ekonomi sebelumnya, hanya selanjutnya dikembangkan dan dikonsepkan dengan konsep yang agak berbeda dan lebih matang. Dalam hal ini, kaum klasik harus banyak berutang budi pada pemikir-pemikir dan penulis terdahulu dari masa merkantilisme.
Daftar Pustaka
Bahan Mengajar Mata Kuliah Sejarah Pemikiran Ekonomi oleh Fakhruddin, S.E.,M.S.E. Fakultas Ekonomi, Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh.
Deliarnov. 2010. Perkembangan Pemikiran Ekonomi Edisi Ketiga Revisi. Jakarta: Rajawali Pers
Djojohadikusumo, Sumitro. 1991. Perkembangan Pemikiran Ekonomi Edisi I. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Terimakasih atas kunjungannya

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s